MAKALAH
MANAJEMEN KONFLIK
![]() |
DISUSUN OLEH
NAMA : SAFRUDYN SELEHULANO
PRODI : MATEMATIKA
SEMESTER : IV ( EMPAT )
SEKOLAH TINGGI
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
( STKIP ) GOTONG
ROYONG MASOHI
TAHUN AJARAN 2014/
2015
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATAPENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
B.
Rumusan
masalah
C.
Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Metode-
Metode Pengelolaan Konflik
1.
Metode
Stimulasi Konflik
2.
Metode
Pengurangan Konflik
3.
Metode
Penyelesaian Konflik
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
B.Saran
DAFTAR
PUSTAKA
B.
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Arti
konflik telah dikacaukan dengan banyaknya definisi dan konsepsi yang saling
berbeda. Pada hakekatnya konflik dapat didefinisikan sebagai segala macam
interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua atau lebih pihak. Konflik
merupakan ketidak sesuaian antara dua atau lebih anggota-anggota atau kelompok
organisasi yang timbul karena adanya kenyataan bahwa mereka harus membagi
sumber daya-sumber daya yang terbatas atau kegiatan-kegiatan kerja, karena
kenyataan bahwa mereka mempunyai perbedaan status, tujuan, nilai atau persepsi.
Oleh
karena itu konflik yang terjadi dalam individu, antar individu, kelompok, dan
organisasi perlu dikelola dengan baik. Sehingga nantinya konflik tersebut tidak
memberi dampak yang buruk bagi perkembangan organisasi ataupun yang lainnya.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Bagaimana
cara mengelola konflik
2.
Mengunakan
metode-metode apa saja dalam pengelolaan konflik
3.
Bagaiman
cara muda mengatasi konflik
4.
Mengapa
sampai terjadinya konflik
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah
ini,adalah:
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Filsafat Manajemen.
2. Sebagai media pembelajaran mengenai
Manajemen Konflik.
3. Mengetahui konsep manajemen konflik,
yang meliputi definisi konflik, factor penyebab timbulnya konflik, jenis-jenis
konflik, strategi dalam manjemen konflik dan penerapan manajemen konflik dalam
organisasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
METODE- METODE PENGELOLAAN KONFLIK
Ada tiga
bentuk manajemen konflik pertama:
Stimulasi konflik dalam satuan-satuan
organisasi dimana pelaksanaan kegiatan lambat karena tingkat konflik terlalu
rendah
Pengurangan atau penekanan konflik bila
terlalu tinggi atau menurunkan
produktifitas
Penyelesaian konflik.
Ada
beberapa macam metode dalam pengelolaan konflik:
a.
Metode Stimulasi Konflik
Seperti telah disebutkan dimuka,
konflik dapat menimbulkan dinamika dan pencapaian cara-cara yang lebih baik
dalam pelaksanaan kegiatan kerja suatu kelompok. Situasi dimana konflik terlalu
rendah akan menyebabkan kariawan takut berinisiatif dan menjadi pasif. Oleh
karena itu seorang manajer dituntut untuk memperhatikan konflik, dan selain itu
juga harus bisa meredam ketakutan terhadap konflik.[1] Manajer dari kelompok
seperti ini perlu merangsang timbulnya
persaingan dan konflik yang dapat mempunyai efek penggemblengan.
Metode stimulasi konflik meliputi:
a) Pemasukan atau penempatan orang luar
kedalam kelompok
b) Penyusunan kembali organisasi
c) Penawaran bonus, pembayaran insentif dan
penghargaan untuk mendorong persaingan
d) Pemilihan manajer-manajer yang tepat
e) Perlakuan yang berbeda dengan kebiasaan
b.
Metode Pengurangan Konflik
Manajer biasanya lebih terlibat
dalam pengurangan konflik daripada stimulasi konflik. Metode pengurangan
konflik menekankan terjadinya antogonisme yang ditimbulkan oleh konflik. Jadi,
metode ini mengelola tingkat konflik melalui” tetapi tidak menangani
masalah-masalah yang semula menimbulkan konflik.
Dua metode efektif yang dapat
digunakan untuk mengurangi konflik. metode efektif pertama adalah mengganti tujuan yang
menimbulkan persaingan dengan tujuan yang lebih bisa diterima kedua kelompok.
Metoda efektif kedua adalah
mempersatukan kedua kelompok yang bertentangan untuk menghadapi ‘’ancaman’’
atau ‘’musuh’’ yang sama.
c.
Metode Penyelesaian Konflik
kegiatan-kegiatan para menejer yang dapat
secara langsung mempengaruhi pihak-pihak yang bertentangan. Metode-metode
penyelesaian konflik lainnya yang dapat digunakan mencakup perubahan dalam
struktur organisasi, mekanisme koordinasi, dan sebagainya,telah dibahas dalam
bab-bab sebelumnya.
Para manajer merupakan pihak utama
dalam konflik-konflik yang terjadi, artinya sebagai orang yang terlibat secara
aktif didalam situasi konflik yang berkembang
Mereka seringkali diminta bantuan
untuk bertindak sebagai pihak penengah pada saat terjadinya konflik, dalam artian pada kasus
apapun seorang manajer harus menjadi partisipan yang terampil dalam dinamika
konflik, agar konflik tersebut menjadi konflik yang konstruktif bukan yang
destruktif.[2]
Seorang manajer juga harus
dapatmenciptakan suasana yang harmonis, agar tidak terjadi konflik yang
berdampak negatif terhadap kariawannya, terlebih dari itu, bagaimana seorang
manajer bersama kariawannya dapat mengendalikan konflik dan memanfatkannya
untuk kemajuan. Untuk kepentingan tersebut manajer harus berwibawa, jujur dan
transparan. Itulah modal yang baik untuk menjalin komonikasi yang harmonis
dengan para kariawan, menciptakan rasa saling percaya, budaya malu, serta
budaya kerja berbasis kreativitas dan spiritual.[3]
Dalam
rangka mencapai tujuan organisasi , diperlukan daya dan usaha keras dalam
setiap kegiatan. Usaha keras dapat dilakukan apabila organisasi itu sehat.
Kesehatan organisasi sangat dipengaruhi
oleh sumber daya yang ada. Sumber daya terpenting yang harus selalu ditumbuh
kembangkan terutama adalah sumber daya manusianya.
Pengembangan
sumber daya manusia untuk mencapai kondisi kultur yang baik dapat dilakukan
dengan berbagai cara. Salah satu cara adalah dengan menumbuhkan motivasi dan
kreativitas kerja melalui koflik organisasi yang bertujuan untuk meminimalkan
konflik yang merugikan dan memfungsionalkan konflik yang menguntungkan.
Ada
beberapa cara untuk memfungsionalkan konflik dalam kerangka meningkatkan
kinerja[4]:
Pertama:
Tehnik
Avoiding (penghindaran) yaitu merupakan perilaku menghindar dari situasi
konflik.tehnik ini dapat digunakan apabila kurang berarti, potensi kekacauan
tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.
Kedua:
Tehnik
accommodating yaitu kooperatif tetapi tidak tegas artinya ada kemauan untuk
memuaskan keinginan pihak lain, memupuk kerja sama, meratakan perbedaan guna
mempertahankan keharmonisan.
Tehnik
ini tepat digunakan jika persoalan yang ada lebih penting bagi pihak lain dari
pada bagi kita, untuk membangun kekuatan sosial apabila muncul kekuatan dimasa
datang guna meminimalkan keruggian jika kita kalah dalam menghadapi persoalan
yang berkembang, jika harmoni dan stabilitas merupakan hal yang sagat penting.
Ketiga:
Tehnik
competing yaitu sikap tidak kooperatif, bekerja dengan cara menentang pihak
lain dan berusaha untuk mendominasi dalam situasi menang atau kalah.
Tehni
ini tepat digujakan apabila untuk menentukan kebijakan dalam situasi yang
darurat, persoalannya penting, bersifat vital bagi kemajuan sekolah, konflik
ini terjadi dengan pihak-pihak oportunis.
Keempat:
Tehnik
compromised yaitu perilaku yang diekspresikan dengan sikap yang cukup
kooperatif dan tegas (assertif) berupaya untuk memuaskan kedua belah pihak.
Tehnik ini dapat dipakai jika tujuan penting dan kurang berombang dengan
kekacauan yang ditimbulkannya dan jika pihak yang bertikai memiliki kekuatan
yang seimbang.
Kelima:
Tehnik collaboraying yaittu perilaku yang
ditunukkan dengan sikap kooperatif maupun assertif danberupaya untuk memuaskan
keinggginan kedua belah pihak.
ds
Setiap
organisasi, institusi, komoniti termasuk didalamnya sekolah pasti mempunyai
potensi konflik yang apabila tidak ditangani secara bijak maka akan menimbulkan
permasalahan bagi integrasi organisasi.
Managemen
koonflik yang efektif akan seslalu merespon konflik secara positif sehingga
akan dimanfaatkan untuk meningkatkan motivasi dan kreatifitas guna mendorong
kinerja individu-individu dalam organisasi.
Bahkan
konflik yang direspon secara positif akan menciptakan kultur yang mendorong
kerja sama, dalam hal ini konflik yang produktif dan bersifat membangun yang
akhirnya dapat menciptakan orhganisasi yang sehat (organization heath)
BAB II
PENUTUP
KESIMPULAN
Pada
dasarnya konflik dapat dikelola dengan beberapa metode. yaitu stimulasi
konflik, pengurangan konflik, penyelesean konflik, selain itu ada beberapa cara
untuk memfungsionalkan konflik diantaranya: tehnik Avoiding, tehnik
Accomodeting, tehnik Compoting, tehnik Compromised, tehnik collaborating.
Dengan adanya beberapa metode dalam pengelolaan konflik, diharapkan konflik
dapat dimanfaatkan sehingga nantinya konflik tersebut dapat dimanfaatkan dengan
baik.
DAFTAR PUSTAKA
Rhudy
vand houvend, Bagaimana Mengelola Lonflik, Bumi aksara, Jakarta, 1996.
Winardi,
Manajemen Konflik, Mandar maju, Bandung, 2007.
Maris
masri, Kiat Menangani Konflik, Erlangga, Jakarta, 2001.
Mulyasa
E, menjadi kepala sekolah professional, Remaja rosdakarya, Bandung, 2003.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar